Artikel Pilihan Editor

Unggahan Media Sosial Penyumbang Utama Gerakan Radikalisme-Terorisme

Unggahan Media Sosial Penyumbang Utama Gerakan Radikalisme-Terorisme

Jambipro, Yogyakarta - Hasil penelitian yang dilakukan Kalijaga Institute for Justice (KIJ) bekerjasama dengan Australian-Indonesia Partnership for Justice  mengungkapkan, media sosial menjadi penyumbang utama gerakan radikalisme-terorisme. Salah satu data  penelitiannya menunjukkan 82% unggahan Twitter merupakan pesan sentimen positif dengan paham khilafah, radikalisme, dan terorisme.

Ketua COMTC (Center of Communication Studies and Training), Bono Setyo, mengatakan usia remaja paling mudah terpengaruh pesan-pesan dari media digital yang menyesatkan dari orang-orang yang tidak bertanggungjawab.

"Dari hasil temuan lain menunjukkan rentang usia pelaku terorisme adalah usia 18-20 tahun. Oleh karenanya, dibutuhkan kecerdasan bermedia agar terhindar dari pengaruh buruk pengiat paham khilafah, terorisme-radikalisme," ujarnya dalam Seminar Nasional dan Call For Paper di  UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta beberapa waktu lalu.

Oleh karenanya, agar generasi muda terhindar dari pengaruh paham khilafah, radikalisme, dan terorisme maka peran guru, orang tua dan masyarakat sangat diperlukan. Selain itu, pendekatan komunikasi dari hati ke hati, cinta kasih dan persuasif sangat juga dibutuhkan agar usia remaja anak-anak dapat mengembangkan diri secara sehat.

Menurutnya di  Indonesia, informasi hoaks, hujatan dan ujaran kebencian dewasa ini semakin marak.  Upaya untuk mencerdaskan masyarakat dalam bermedia perlu terus dilakukan, agar jangan sampai merusak sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Sementara, Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama, UIN Sunan  Kalijaga  Yogyakarta, Waryono, menambahkan saat ini arus informasi di media sosial sangat marak sekali, hingga tidak lagi bisa membedakan mana pesan yang benar dan mana yang hoaks dan bahkan sudah seperti sampah informasi. Untuk itu, upaya mencerdaskan masyarakat dalam bermedia perlu terus dilakukan, agar tidak merusak sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara.

"Islam sesungguhnya telah memberikan rambu-rambu dalam berkomunikasi yang tertulis dalam al Qur’an. Ini bisa menjadi pegangan bagaimana kita berkomunikasi langsung maupun lewat media. Lebih-lebih media sosial yang bisa dengan cepat dikonsumsi oleh masyarakat dunia," katanya.

Menurutnya jika dalam berkomunikasi tidak memahami rambu-rambu yang ada, pesan melalui medsos yang bersifat hoaks, menebar kebencian, menghasut, menfitnah dan seterusnya akan berakibat sangat fatal terhadap kelangsungan hidup masyarakat.

"Sedikitnya ada tiga hal rambu-rabu disebutkan dalam al Qur’an yakni diam, jika tidak memahami yang sesungguhnya terjadi,  bertanya kepada ahlinya jika tidak paham, serta mengajak untuk tabayyun,  bersabar ketika mengalami tekanan, hujatan, fitnah dan semacamnya," katanya.


Komentar